kamu pernah merasakan dan berada di titik jenuh??
bagaimana rasanya??
ya sekarang ini yang ku rasakan.
Berada di titik jenuh. Jenuh dengan rutinitas yang ada.
Jenuh
dengan semua pekerjaan keseharian, uang, Ms. Excel, Invoice, Surat
Berita acara, ordering, email, selisih paham dengan staff, ngajar, kerja
dalam target.
akkkk aku benar-benar jenuh dengan semua ini.
Manusia sekali bukan??
Dan sekarang kepala benar-benar beraaaaattt banget. PENING! >,<
Bantu aku tetap survive dalam kondisi ini Tuhaaan :((
Senin, 02 September 2013
Jumat, 30 Agustus 2013
Kala Senja itu
Masih ku amati kala senja itu, kamu duduk di dekat pematang.
Menghirup dan menyesap kopimu walau sudah agak dingin. Kau sudah
mendiamkannya karna kau terlalu sibuk dengan kamera yang kini ada di
pangkuanmu.
Angin itu datang, semilir. Rambut mu tersibak. ahh,
wangi menthol itu masih sama. Yang aku tahu setiap berada di samping mu,
wangi itu yang selalu aku suka.
Sekilas lirik kau masih asyik
dengan pikiran mu sendiri, memandang lukisan Tuhan. *deg* kau
menggenggam tangan ku. Ku pandangi kau tajam. Walau tanpa suara kau
mengerti arti pandanganku.
Kau tak hiraukan pandangan ku. 3 menit 5 menit jantung ini terus meronta saat telapak tangan ini bertaut dengan telapak tangan mu.
Kau tak hiraukan pandangan ku. 3 menit 5 menit jantung ini terus meronta saat telapak tangan ini bertaut dengan telapak tangan mu.
"kenapa?" tepat kau menghunusku dengan tatapan mata itu. Tatapan mata yang selama ini selalu ku hindari.
Lidah ku kelu. Tak sepatah katapun yang dapat ku jawab dari pertanyaanmu.
Kunikmati jingganya sore itu dengan senyum dalam bathin.
Rabu, 14 Agustus 2013
Jumat, 02 Agustus 2013
Ramadhan Ini....
Tuhan.. maafkan aku sebelumnya..
Ya mungkin aku adalah satu dari berjuta umat mu yang terkadang jauh dari Mu.
Bukan. Bukan itu maksudku untuk menjahuiMu.
Aku masih berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Walau harus tertatih untuk menjalaninya.
Maafkan aku pabila ramadhan ini ibadah yang ku lakukan belum bisa dikatakan sempurna. Jauh bahkan.
Alasan kesibukan? mungkin dalam benak Mu.. Klasik!
Tapi aku tak mau menyebutnya demikian. Ini salah ku. Tak memanfaatkan moment indah ini dengan baik.
Aku yang masih absen dalam sholat terawih, untuk membaca asma Mu dalam Al-Quran?? ah sudah lah mungkin bisa dihitung oleh jari.
Aku yang masih absen dalam sholat terawih, untuk membaca asma Mu dalam Al-Quran?? ah sudah lah mungkin bisa dihitung oleh jari.
Tuhan.. izinkan aku menyempurnakan ibadah ku di bulan terindah ini yang hanya beberapa hari saja akan usai.
Tuhan jika ini menjadi Ramadhan ku yang terakhir masih sudi kah Kau untuk sedikit saja memberiku tenggang waktu setelah ramadhan ini untuk ku menyempurnakan sholat wajib ku?
Mengukir senyum terindah di wajah kedua orang tua ku?
Tapi aku masih berharap aku masih dapat menghirup wangi nya walau sedikit bulan Ramadhan depan sampai batas waktu yang Kau tentukan.
Maafkan aku :'(
Rabu, 24 Juli 2013
Hanya Sebuah Cerita :)
Wanita terbodoh yang ada di jagad
ini. Aku.
Entah berapa kata lagi yang mampu
menuliskan kerinduan ini.
Merindukan kamu yang fana.
Aku yang tak pernah lelah untuk
terus menarikan jemari ku, menuliskan kamu di setiap tulisan – tulisan ku.
Kamu. Cerita yang telah lama telah
mengendap yang mungkin sudah lama aku ingin ceritakan.
Kamu. Hadirmu terkadang membuat ku kembali tersenyum
saat mengingatnya. Tak ada seorang pun yang paham. Hanya aku. Muncul dengan
kesederhanaan mu. Mengungkapkan kau mencintaiku. Ragu rasa tertindih akan asa.
Tuhaaan kenapa aku bisa mencintainya?
Kamu. Tak tertuangkan hanya
sekedar kata. Namun kamu tak pernah menyadari begitu aku memuja mu. Sudah
kubiarkan diri ini tenggelam terlalu dalam. Kamu membunuhnya seketika. Lelah. Kamu
yang tak lagi menegurku dengan riang mu. Kamu bukan lagi ku kenal. Kamu melipat
dan membuangnya dengan tega.
Kamu. Berjanji untuk kembali. Aku
tau itu mungkin dalam waktu yang sangat lama. Aku menanti. Bodoh. Dan setiap
malam yang mengerikan ada rongga yang ku isi dengan doa. (Mungkin)Kamu tak pernah ingin pulang, kamu tidak ingin
kembali. Karena aku tidak pernah jadi tempat kamu pulang. (Tere Liye dalam
novel Sunset Bersama Rossie)
Kamu. Aku mencintaimu walau kamu seperti
badai yang mampu memhempaskan harapan. Kamu.
Begitulah aku mencintaimu walau kamu kini hanya sebuah cerita...
Selasa, 16 Juli 2013
RIBET!
Hadirmu mungkin bagai momok yang aku tak pernah tau kapan
itu awalnya. Seolah dengan kuasa mu, kamu (mungkin) mampu menghancurkan tegar
nya karang. Kamu nahkoda. Ya nahkoda akan ego mu yang tak jera. Dengan terpaan
ombak dan bisunya karang tak pernah kau hiraukan.
Batu!
Entahlah itu aku yang miliki ego terlalu menjulang, atau kamu yang seakan tak mengerti adanya angin yang berbeda dari mataku.
Awalnya?? Ah sudah lah mungkin sebentar lagi seperti lelaki yang lain, kebisuan ku akan menyurutkan nyali mu, dan akhirnyaaa.. tiba-tiba menghilang.
Tapi kamu? Seolah tak kenal apa itu arti kediaman ku. Aku telah berkecipak dengan air, ya sudah selami saja sekalian. Urusan besok akan selamat dengan bahagia atau tenggelam dengan penyesalan akan kupikirkan nanti. Itu mungkin pikir mu.
Namun aku? Terkungkung dalam baris ribuan tanda tanya. Aku masih saja setegar karang, menjaga ego, menepiskan luka yang kian membujur dalam palungku. Aku masih saja membisu memperhatikan setiap gerak mu yang aneh. Kamu yang mencoba pelan – pelan menyusun isyarat. Bahwa aku teramat indah di hadapanmu.
Nyaman. Itu kata yang sanggup aku ucapkan. Itu sekarang. Entah lah untuk esok. Aku yang menggantungkan jawaban itu.
Waktu melesat bagai roket.
Arti hadirmu kini seperti piasan warna jingga di sore hari. Kini aku baru menyadarinya. Aku yang dulu tak pernah peduli akan lukisan Tuhan itu tapi sekarang waktu berbalik. Waktu di mana (kita) aku yang biasanya telah mengakhiri rutinitas untuk sehari ini, menunggu kau menelpon.
Klasik!
Tapi ini apa adanya.
Yah selepas ku menunaikan tugasku atau disela waktu makan siang, kamu (dulu) menyempatkan waktu untuk menelepon, sekedar hanya ingin menanyakan kabar apakah aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. pastinya. BAIK dengan versi ku sendiri. Tapi tak satupun itu ada kamu di layar Handphone ku. Kamu seperti menghilang. Kebiasaan mu (dulu) sudah tidak lagi. Mungkin itu jawaban ku? Mungkin ini keputusan mu? Karena semua tidak lagi. Aku yang telah membuatnya rumit. Itu kata mu. Maafkan aku. Dan waktu (mungkin) nanti akan berbaik hati pada kita.
Batu!
Entahlah itu aku yang miliki ego terlalu menjulang, atau kamu yang seakan tak mengerti adanya angin yang berbeda dari mataku.
Awalnya?? Ah sudah lah mungkin sebentar lagi seperti lelaki yang lain, kebisuan ku akan menyurutkan nyali mu, dan akhirnyaaa.. tiba-tiba menghilang.
Tapi kamu? Seolah tak kenal apa itu arti kediaman ku. Aku telah berkecipak dengan air, ya sudah selami saja sekalian. Urusan besok akan selamat dengan bahagia atau tenggelam dengan penyesalan akan kupikirkan nanti. Itu mungkin pikir mu.
Namun aku? Terkungkung dalam baris ribuan tanda tanya. Aku masih saja setegar karang, menjaga ego, menepiskan luka yang kian membujur dalam palungku. Aku masih saja membisu memperhatikan setiap gerak mu yang aneh. Kamu yang mencoba pelan – pelan menyusun isyarat. Bahwa aku teramat indah di hadapanmu.
Nyaman. Itu kata yang sanggup aku ucapkan. Itu sekarang. Entah lah untuk esok. Aku yang menggantungkan jawaban itu.
Waktu melesat bagai roket.
Arti hadirmu kini seperti piasan warna jingga di sore hari. Kini aku baru menyadarinya. Aku yang dulu tak pernah peduli akan lukisan Tuhan itu tapi sekarang waktu berbalik. Waktu di mana (kita) aku yang biasanya telah mengakhiri rutinitas untuk sehari ini, menunggu kau menelpon.
Klasik!
Tapi ini apa adanya.
Yah selepas ku menunaikan tugasku atau disela waktu makan siang, kamu (dulu) menyempatkan waktu untuk menelepon, sekedar hanya ingin menanyakan kabar apakah aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. pastinya. BAIK dengan versi ku sendiri. Tapi tak satupun itu ada kamu di layar Handphone ku. Kamu seperti menghilang. Kebiasaan mu (dulu) sudah tidak lagi. Mungkin itu jawaban ku? Mungkin ini keputusan mu? Karena semua tidak lagi. Aku yang telah membuatnya rumit. Itu kata mu. Maafkan aku. Dan waktu (mungkin) nanti akan berbaik hati pada kita.
Kamis, 20 Juni 2013
Berbagi?
“Tetapi
menyenangkan menemukan ada orang yang mendukung menggapai mimpi. Perasaan
senang ini tidak datang setiap hari. Mereka hanya sesaat. Kadang tidak tahu
hingga kapan mereka ada. Tapi berjanjilah untuk menikmati hari ini.”
-@perempuansore-
Wanita
kotor yang selalu berusaha untuk menikmati apa yang dirasakan hari ini.
Saya.
Tak ada
yang selalu manis dari hidup ini. Seperti coklat.
Bukankah
coklat yang sering kali kita rasakan itu lezat? Tunggu dulu. Pohon
coklat awalnya itu pahit kemudian setelah diolah akan menjadi manis. Sama
halnya dengan hidup ini. Terkadang kita merasakan pahit, getir menjalani
segalanya. Lalu bagaimana cara kita dalam menghadapinya. Mengolahnya dengan
sabar bersama orang – orang yang selalu mendukung kita, menyayangi kita agar
semuanya menjadi semanis coklat.
Lalu relakah coklat itu dibagi?
Tak ada
yang sempurna, tak ada yang ideal.
Manis yang
hanya sesaat kini saatnya membagi.
Ya.. kini
harus membagi dengan rela kepada sang waktu. Menebaskan mimpi akan adanya
jurang yang terbentang. Saat nya mengubur mimpi itu sendiri. Dan tetap
menikmati hari ini. Sendiri.
Kamis, 07 Februari 2013
Satu Rindu
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu
Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu
Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu
(Opick-Satu Rindu)
Samar-samar dari dalam bilik kamar, ku dengarkan baik-baik tiap detail lyric lagu ini.
Salah kah aku menyimpan rindu pada seseorang yang jelas bukan milik ku??
Salah kah aku yang masih menangisi tentang kepergiannya??
Salah kah aku yang terlalu menyayanginya??
Bukan suatu kemunafikan, hanya rasa yang timbul karena terbiasa.
Sosok yang sudah hampir 7 tahun ku mengenal nya.
Bukan dari rahimnya pula lah aku dilahirkan.
Bukan dari peluh keringatnya pula aku dibesarkannya.
Tapi perasaan yang dengan sendirinya muncul karena telah memiliki.
Izinkan aku menyimpan tangis air mata disaat aku mulai teringat akan dirimu.
Izinkan aku terus memeluk bayangan dirimu yang telah sirna.
Aku tak sedikit pun ingin melukai mu, hanya tak kuasa harus mengingat semua kenangan dari wajah bersahajamu.
Aku mencintai mu seperti aku mencintai ibuku sendiri.
Aku tetap merindukan mu...
Langganan:
Postingan (Atom)

